zurich

zurich
Kolateral di tengah kota, Zurich Course Interventional Neuroradiology, Agustus 2016

Laman

Sabtu, 11 Agustus 2018

Wajah Pemimpin, Wajah Siapa ?

Biasa sajalah kawan, datarkan kerut dahimu…
Kau sendiri yang mengatakan politik hanya wasilah
Silat lidah dan retorika tak perlu berpanjangan
Tak perlu drama dan silang sengketa

Kau inginkan Negeri ini seperti apa ?
Saat di pimpin politisi, kau bilang bisa jadi sarang korupsi
Saat di pimpin pengusaha, kau bilang negeri jadi lumbung dosa
Saat di pimpin ulama, kau bilang agama tergadai jadi tak berharga
Lalu, Kau inginkan di pimpin siapa ?

Kau khotbahkan bahwa,
Pemimpin harus cerdas, tangkas, jujur dan sholeh….
Nyatanya, tokoh idolamu dulu yang tampak cerdas dan tangkas tak lagi jujur saat menjabat….
Nyatanya, tokoh panutanmu dulu yang jujur dan sholeh tak seperti harapanmu, benar pudar dengan berjalannya waktu….
Ataukah seperti banyak akademisi, yang melangit saat berargumentasi, nyatanya masuk bui saat jadi praktisi…
Nyatanya, pemimpin ‘harus’ dalam katamu, hanya ‘ada’ dalam mimpimu

Santai dulu saja kawanku, hilangkan urat tegangmu….
Siapa lagi tokoh impianmu untuk Negeri ini,
Sebutkan saja semuanya….
Ternyata, yang kau dukung itu, hanya karena mereka sepaham denganmu
Ternyata, yang kau bela itu, hanya karena mereka dari kelompokmu
Nyatanya, semua yang kau unggulkan hanya karena sesuai inginmu

Maka, sungguh kau tidak sedang memilih mereka
Sungguh engkau tidak sedang memilih pemimpin Negeri ini
Engkau sedang memilih dirimu sendiri
Engkau hanya membela dirimu sendiri
Engkau hanya ingin melampiaskan nafsumu sediri

Datar sajalah wahai kawan….
Pemimpin yang ada dihadapanmu adalah cermin dirimu
Tak perlu kau tunjuk wajah mereka dengan amarah
Jelek wajahmu, mengapa cermin kau belah…..?

Sabtu, 04 Agustus 2018

Akhir Hari di Bangsal Neurologi.....

Banyak kali kami temui, pasien sakaratul maut di bangsal neurologi. Inilah tempat pasien tak sadarkan diri, baik karena stroke maupun infeksi. Ada pula tumor, trauma, dan ensefalopati.

Kala mulai tak sadarkan diri, kala itu tak ada yang dapat mereka ucap lagi, kecuali yang lama tertanam dalam memori. Saat kesadaran mulai menurun, hilanglah atensi, pudarlah konsentrasi, terucaplah apa yang biasa terucap. Adakah terucap dzikir dan puji, ataukah umpatan caci maki. 

Banyak kami saksikan, saat menurun kesadaran, pasien tak berhenti membaca Al Qur'an. Banyak kami lihat, dalam kondisi amat berat, yang terucap hanyalah sholawat.

Namun, sering pula kami jumpai, dalam gelapnya akhir hayat, tak ada tasbih, tak ada puji, hanya teriakan tiada henti.

Sakaratul maut demikian beratnya. Terkadang hanya terucap kata, tak mampu terucap kalimat. Lidah kelu, otak beku. Tatkala ada bisikan menuntun, menyebut nama Allah, tidak juga dapat terucap asma-Nya, kecuali yang biasa mengucapkannya, tak juga terucap lafadz-Nya, kecuali yang biasa mengingat-Nya.

Ya Allah, Ya Rabbi....Anugerahilah kami, orang tua kami, keluarga kami....akhir hayat husnul khatimah....Aamiin.

Jumat, 27 Juli 2018

Guru Kita, Nun di sana

Hampir sepuluh tahun lalu kami menghampirinya. Menangkupkan kedua tangan, menampung tetes-tetes ilmu yang jatuh dari kerja kerasnya. Kala itu, kami kehausan, dan tak seorangpun rela memberikan meski setetes. Kala itu kami bodoh, buta dan tuli. Beliau bukakan mata kami dari tabir tebal, sehingga tersingkap warna-warna indah dunia nyata. Beliau tuntun tangan kami, bagaimana melakukan gerakan indah dan terampil dalam ruang operasi.

Kemudian,
beliau tunjukkan jalan bagaimana melaluinya, mengatasi rintangan sekaligus menyelesaikannya. Langkah-langkah dan diskusi intens, bergantian dengan interaksi hangat sepanjang hari. Ada kejadian, ada pelajaran, dan ada pengalaman emosional.
Tatkala kami lemah, beliau dukung dan bangkitkan. Tatkala kami lalai, beliau lecut dan ingatkan.

Beliua seolah orang tua kami, yang bisa marah dan merajuk pada anak nakal-nya. Tetapi, lapang dada dan keluasan jiwa, tetap akan menempatkan kami semua dalam memori dan kasih sayangnya.

Namun, kesibukan kami telah melupakan kami akan beliau, yang makin menua...makin perasa....
Seolah kami tak lagi memerlukannya, karena kami telah mereguk semua ilmunya....
Seolah kami tak lagi memperdulikannya, karena kami telah dapat mengambil ilmu dari siapapun...
Kami lupa,....bahwa dari beliau kami belajar mengeja, dari uluran tangan beliau kami berdiri dan berjalan.
Kami lupa, benar-benar lupa, tanpa beliau kami bukanlah apa-apa.....

GA 307, Surabaya-Jakarta, 2018