Surabaya, Ahad, 3 Mei 2026. Cuaca berawan, antara 24-32 derajad celcius. Jamaah 49 orang, Haji Khusus dari 4 travel (An Nur Karah Agung Surabaya, Nur Haramain Probolinggo, Andromeda Atria Surabaya, Nur Dhuha Surabaya), bersiap menuju Madinah. Dengan Pelita Air menuju Jakarta. Bersambung Qatar Air menuju Doha dan Madinah.
Bacaan Talbiah yang disenandungkan menggetarkan hati yang lelah. Lelah dengan aksi siklis kehidupan, aksi siklis yang kosong. Rutinitas dunia yang tiada henti. Suatu gerakan tanpa tujuan. Sirkuit celaka. Celakalah orang yang lalai dan bermegah-megah dalam kehidupan dunia, demikian disampaikan surat At Takatsur.
Hidup siklis tanpa arah, seperti kehidupan dengan jasad tanpa ruh. Maka tatkala jamaah melakukan niat berhaji, ia keluar dari rumahnya sendiri menuju rumah Allah, keluar dari egonya sendiri menuju rumah ummat manusia.
Dengan haji, jamaah keluar dari jaring kusut kehidupan. Bukankan tabiat manusia telah berubah? Manusia sejatinya dibanggakan Allah dihadapan para malaikat sebagai khalifah di bumi, diajarkan nama-nama, dan malaikatpun bersujud kepadanya. Kekuatan sistem sosial telah mengubah manusia menjadi orang asing dan lalai. Tujuannya bukan lagi Allah. Tujuanya adalah dirinya sendiri.
Tinggalkan sekelilingmu dan pergilah ke tanah suci. Engkau akan menjumpai Allah. Engkau akan menemukan dirimu sendiri, keterasinganmu akan sirna.
Labbaik Allahumma Labbaik, Labbaika laa syaikalakalabbaik.