zurich

zurich
Kolateral di tengah kota, Zurich Course Interventional Neuroradiology, Agustus 2016

Laman

Kamis, 04 Juni 2026

Bergetar di ‘Arafah


Pintu langit terbuka

Saat hamba tersungkur

Tak tersisa angkuh

Hanya ada sang Maha Agung

Pemilik padang Arafah

 

Bumi bergetar

Langit bergetar

Hati bergetar

 

Labbaik…

Adakah demikian jawab kami?

Saat penuhi paggil-Mu nanti

Mengiring nafas terakhir

Menanda nadi terakhir

 

Panggil kami ya Allah..

Keharibaan Mu

Seperti saat berihram

Berpendar di Arafah

Memutih di Masy’ar

Bercahaya di Mina

 

Panggil kami ya Allah

Pada akhir hayat….

Seperti saat di Arafah

Dan kami menyambut

Labbaikallahumma Labbaik….

 

Padang Arafah, 9 Dzulhijjah 1447H

Sabtu, 02 Mei 2026

Haji 2026: Mengoreksi Gerakan Tanpa Tujuan


Surabaya, Ahad, 3 Mei 2026. Cuaca berawan, antara 24-32 derajad celcius. Jamaah 49 orang, Haji Khusus dari 4 travel (An Nur Karah Agung Surabaya, Nur Haramain Probolinggo, Andromeda Atria Surabaya, Nur Dhuha Surabaya), bersiap menuju Madinah. Dengan Pelita Air menuju Jakarta. Bersambung Qatar Air menuju Doha dan Madinah.

Bacaan Talbiah yang disenandungkan menggetarkan hati yang lelah. Lelah dengan aksi siklis kehidupan, aksi siklis yang kosong. Rutinitas dunia yang tiada henti. Suatu gerakan tanpa tujuan. Sirkuit celaka. Celakalah orang yang lalai dan bermegah-megah dalam kehidupan dunia, demikian disampaikan surat At Takatsur.

Hidup siklis tanpa arah, seperti kehidupan dengan jasad tanpa ruh. Maka tatkala jamaah melakukan niat berhaji, ia keluar dari rumahnya sendiri menuju rumah Allah, keluar dari egonya sendiri menuju rumah ummat manusia.

Dengan haji, jamaah keluar dari jaring kusut kehidupan. Bukankan tabiat manusia telah berubah? Manusia sejatinya dibanggakan Allah dihadapan para malaikat sebagai khalifah di bumi, diajarkan nama-nama, dan malaikatpun bersujud kepadanya. Kekuatan sistem sosial telah mengubah manusia menjadi orang asing dan lalai. Tujuannya bukan lagi Allah. Tujuanya adalah dirinya sendiri.

Tinggalkan sekelilingmu dan pergilah ke tanah suci. Engkau akan menjumpai Allah. Engkau akan menemukan dirimu sendiri, keterasinganmu akan sirna.

Labbaik Allahumma Labbaik, Labbaika laa syaikalakalabbaik.

Rabu, 12 November 2025

Di Masjid Nabawi: Kabarkanlah Tentang Ibu

Salam Ta'dzim untuk Baginda
Sampaikanlah,
Ibu kami, Nur Hidayati
Sungguh sepenuh hati
Mencintai Baginda Nabi

Beliau ajarkan kami,
Sejak kanak dan dini
Puisi Indah, 
Muhammad yang Agung
Sepanjang waktu melarung

Puisi itu dituliskan
Di kertas nurani,
Jiwa-jiwa kecil
Yang polos dan suci

Kisah dan sirah
Diceritakan, 
Pada kami dan para santri, 
Penuhi rumah kecil di sore hari

Pesan ibunda,
Wahai anakku
Lakukanlah ini,
Kerjakan itu,
Karena Nabi mengamalkan-nya

Hidari ini,
Jauhi itu,
Karena Nabi 
Tak menyukai-nya

Di Masjid Nabi
Salam Ta'dzim untuk Baginda
Mohonkanlah syafaat bagi Ibunda
Bahagialah saja berkumpul bersama Mereka, para pecinta

Jakarta, GA 324 CGK SBY, 8 Nov 2025

Senin, 10 November 2025

Neuron Tanpa Sinaps 

Ada... ruang di kepala kita,
yang dulu penuh cahaya,
kini... hanya gema logika.

Neuron menyala,
tapi tanpa sinaps.
Tak ada arus yang menghubungkan satu jiwa dengan jiwa lain,
hanya listrik dingin —
menyala, padam, menyala lagi —
otomatis.

Kita...
para penjaga kesadaran,
para pemelihara sistem saraf kehidupan,
perlahan berubah jadi mesin,
berfungsi sempurna... tanpa makna.

Kita bicara tentang empati,
tapi menuliskannya di laporan,
bukan di hati.
Kita mendiagnosis jiwa,
namun lupa menyembuhkan hening dalam diri sendiri.

Neuron tanpa sinaps — begitulah kita.
Saling tahu, tapi tak lagi terhubung.
Saling hadir, tapi tak benar-benar bersama.

Dan pada akhirnya...
bahkan otak yang paling brilian pun beku,
jika tiap neuron memilih berdiri sendiri,
lupa —
bahwa berpikir pun...
butuh cinta.

Minggu, 15 September 2024

Tanya Anakku, Mengapa ke Pesantren?

Ayah, Buat Apa Mondok?

Demikian tanya anakku

Aku tak bisa menjawab,

Angan melayang berpuluh tahun lalu

Kala Ayah Ibuku mengantarku ke gerbang pesantren

 

Ayah, bukankah mengaji bisa dari rumah?

Aku tak bisa menjawab

Imajinasi terbawa kembali,

Saat Ayah dan Ibu berbagi kisah,

Kala mereka menjadi santri

Hidup bersahaja dalam bimbingan Kiai

 

Ayah, kenapa harus Pondok Pesantren?

Aku tak bisa menjawab

Aku teringat,

Akan perih-nya menahan rindu

Akan betapa bernilai,

Detik demi detik waktu

Saat mereka mengunjungiku

 

Mencium tangan Ayahanda,

Menyembuhkan semua duka 

Peluk sayang Ibu,

Memudarkan rindu membeku

 

Ayah, apakah aku harus nyantri seperti Ayah?

Aku tak bisa menjawab

Aku teringat Ibu,

Yang setiap mengunjungiku bertanya,

Bagaimana makanmu, nak?

Sehatkah engkau?

Beliau selalu membawa sekotak susu,

Meskipun aku tak menyukai-nya

Beliau memberikan bekal tambahan,

Meskipun Ayah mencukupi-nya

 

Ayah, kenapa tidak menjawab?

Demikian tanya anakku

Maka, Aku sampaikan padanya,

Dengan kata terbata-bata,

 

Wahai anakku,

Kalau rasa terima kasih pada orang tua 

Hanya boleh diwakili oleh satu ungkapan saja

Ayah akan menyampaikan pada mereka,

“Terimakasih, sudah memberikan yang tak ternilai,

telah mengirim Aku ke pesantren.”

 

Dan sekarang,

Saat engkau bertanya, mengapa?

Jalani dan nikmati saja 

Nanti engkau akan merasakan-nya

 

Tentang rasa rindu dan duka,

Ayah dan Bunda juga merasakan-nya

Rasa yang kami gantikan dengan Doa

Berharap Rahmat dan Kasih Sayang-Nya


Surabaya, 16 September 2024.

(Maulid Sayyidina Muhammad SAW)

Sabtu, 08 Juli 2023

Bapak, adakah waktu itu sudah mendekat?

Gurat garis wajahmu semakin terlihat tampak,
Namun mimpi besarmu belumlah pudar
Pandangan mungkin mulai kabur,
Tapi langkah kakimu belum surut
Tajam mata hatimu penuh kau turut

Kami pandang dengan suka,
Semua khidmah yang tak pernah lelah
Kami pandang dengan duka,
Mungkin bersuamu lagi tak lama

Tetes air mata,
Mengiringi sepenuh doa
Setelah Ibu....
Adakah lagi,
Akan kau tinggalkan kami disini ?

Minggu, 02 Juli 2023

Pesantren Ibunda

Telinga kecil kami begitu terbiasa
Mendengar celoteh alif ba ta
Dari anak-anak kampung sebaya
Sabarnya Ibunda bimbing mereka

Sejak dini, sejak balita
Sore hari tak pernah sepi
Dari untaian doa-doa
Atau cerita sejarah Baginda

Ibunda tak sekedar menasihati
Namun, menginspirasi
Menanamkan cinta dini
Menjadi santri sungguh terpuji

Semua indera kecil kami,
Penglihatan, pendengaran, hati nurani
Menyaksikan, mendengar, merasakan
Dituntun nya agar mulya

Terlihat Ibunda tersenyum di sana
Sedang sirami warna warni bunga
Pada sebuah taman Surga,
Menunggu kami penuh bahagia

Banyuwangi-Surabaya, 1 Juli 2023

Senin, 31 Oktober 2022

Surat Ibunda Untuk Kanjeng Nabi

 Muhammad Yang Agung










Kau lahir di atas puing kehancuran iman dan akhlaq
Di atas padang gersang,
Bergumul penghuni bumi durhaka
Hidup dilingkungan berhala-berhala buta

Tiada kasih bersunting di hati
Tiada doa melagu ke langit
Kehadiranmu disongsong api kemurkaan ummat sesat
Dosa-dosa terkapar memeluk hati dan lidah
Bercanda keseharian
Adakah mereka mau bicara,
Allahu Akbar ...?

Kau lahir di atas nafiri Ilahi
Penegak hak,
Membentangkan nur Ilahi ke puncak-puncak benua
Melakukan jihad terhujam di dasar hati dunia
Kau rengkuh dunia penuh dosa
Kau kikis ummat menelan kemungkaran
Kau labuhkan dunia ke taman Firdaus
Dengan cinta dan kedamaian

(Catatan Cinta Nabi, Ibunda Hj. Nur Hidayati)

Sabtu, 06 November 2021

Tidur Yang Bertujuan

Khutbah Pertama


Ada banyak kitab yang diajarkan di pesantren. Tafsir, Hadis, Tauhid, Sirah, Kitab yang sifatnya tematik, seperti cara berdzikir (al-adzkar), kitab berisi nasihat yang memberikan kabar gembira dan peringatan peringatan (targhib wa tarhib) dn berbagai kitab lainnya. Salah satu kitab tersebut adalah bagaimana cara kita menjalani dan menghabiskan waktu dalam keseharian sesuai tuntunan Rasulullah. Kitab yang diajarkan pada semua tingkatan usia di pesantren dan senantiasa diulang-ulang jika sudah khatam. Kitab Bidayatul Hidayah.

 

Hidup kita dalam 24 jam terdiri dari waktu jaga dan waktu tidur. Pada saat jaga, dimulai dari fajar dengan menunaikan shalat dan ibadah, kemudian dilanjutkan dengan aktivitas sehari-hari. Kita dianjurkan untuk menghabiskan waktu kita dengan 4 kegiatan:

1.     Menuntut ilmu yang bermanfaat. Apakah ilmu yang bermanfaat itu ? Apakah ilmu yang kita kaji dan pelajari sekarang adalah ilmu yang bermanfaat ? Apakah ilmu yang bermanfaat itu ? ilmu yang membuat kita kian takwa kepada Allah, kian mengetahui kesalahan-kesalahan kita, semakin tahu cara mengabdi kepada Allah, mengurangi kecintaan pada dunia, semakin menciantai akhirat; ilmu tersebut makin membukakan mata kita terhadap keburukan-keburukan yang kita miliki. Karena setan senantiasa banyak memberikan tipu daya bahkan kepada cerdik pandai dan ulama. Sehingga ada ulama suu’, yaitu ulama yang keji yang dimurkai Allah.

2.     Menunaikan berbagai Ibadah. Inilah perilaku para abid dan para sholeh.

3.     Menyibukkan diri dengan tindakan-tindakan yang menguntungkan sesama muslim, membahagiakan orang beriman, memudahkan orang lain untuk beramal sholih, bersedekah pada fakir-miskin, mengunjungi yang sakit, mengantar mayat ke pemakaman. Semua kegiatan ini lebih baik dari ibadah sunnah. Karena merupakan pengabdian kepada Allah sekaligus membahagiakan sesame muslim.

4.     Jika ketiganya tidak bisa kita lakukan, cara keempat adalah mencari nafkah untuk diri sendiri dan keluarga, sehingga kita dan keluarga kita tidak menjadi peminta-minta, tidak memberikan madharat kepada orang lain, dan orang lain tidak menderita karena lidah dan tangan kita.

 

Kegiatan apapaun diluar keempat kegiatan ini harus kita waspadai sebagai kegiatan yang menjauhkan kita dari Allah.

 

Setelah kegiatan-kegiatan tersebut, waktu kita gunakan nuntuk istirahat. Untuk tidur.

Usia manusia terbatas. Sedang manusia menggunakan sepertiga usianya untuk tidur. Banyak tidur, mungkin sama buruknya dengan kurang tidur. Kecuali tidur itu akan menghindarkan kita dari perbuatan tercela dan maksiat. Dalam sudut pandang spiritual, tidur memiliki makna penting, karena tujuan tidur adalah untuk bangun kembali, dan saat bangun, tidaklah diniatkan kecuali untuk ibadah. Bisakah tidur bernilai ibadah?

 

 

 

Sudut Pandang Kedokteran

 

Tidur menyebabkan organisme tidak waspada terhadap lingkungannya, organisme misalnya binatang tidak lagi berpikir tentang sumber makanan potensial, pasangan, atau bahaya yang akan datang. Namun, terlepas dari semua potensi kerugian seperti itu, setiap hewan tidur. Dari lalat buah/drosophila, tikus laboratorium hingga manusia, evolusi telah melestarikan keadaan tak terjaga ini sepanjang waktu. 

 

Fungsi tidur cukup penting untuk mengatasi bahaya berada dalam keadaan tidak terjaga. Para peneliti mengungkap berbagai peran potensial untuk setiap keadaan tidur, termasuk pemulihan dari stres oksidatif di otakkonservasi energiperiode sintesis protein tinggi, dan stimulasi dari otak tidur untuk memfasilitasi transisi ke bangun. Tidur ternyata merupakan tahap waktu yang penting untuk konsolidasi memori yang dibuat selama bangun.

 

Islam mengajarkan umatnya untuk mensyukuri segala nikmat yang diberikan oleh Tuhannya. Bahkan, agama Islam menganggap tidur sebagai salah satu anugerah Allah SWT. Sebagaimana yang diriwayatkan dalam Al-Quran:

 

 



 

"Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah tidurmu pada waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan." (QS. Ar-Rum ayat 23)

 

Al-Quran mendefinisikan "tidur" ke dalam arti yang beragam. Analisis mendalam dari deskripsi yang berbeda di dalam Al-Quran tentang tidur mungkin mencerminkan berbagai jenis atau tingkatan tidur yang terjadi pada manusia. Dalam Al-Qura’an tidur disebutkan dengan beberapa terminologi yang beragam :  Sinah (tidur ringan/kantuk), nu'ass sebagai tidur siang singkat, ru’qood adalah "tidur dalam waktu lama",  ho'joo menunjukkan tidur di malam hari, kata su’baat berasal dari kata sabt, yang berarti memutuskan hubungan

 

 

Sinah (tidur ringan/kantuk)

Kata "sinah" memiliki arti kantuk. Dilansir dari penelitian Syamsinar (2016) yang berjudul "Pola Tidur dalam Al-Quran", Al-Ashfahani mengartikan kata sinah yang berarti lengah/tidur ringan. Kemudian, M. Qurais Shihab menjelaskan sinah sebagai kantuk (dalam artian Allah) tidak seperti manusia yang tidak kuasa menahan kantuk dan tidak dapat mengelak dari kondisi ingin tertidur. 

Selain itu, sinah didefinisikan sebagai kondisi tertidur untuk waktu yang sangat singkat setelah melakukan aktivitas yang cukup memakan tenaga. Dalam Al-Quran, tidur menyiratkan tanda bahwa tubuh perlu istirahat. Sementara Sang Pencipta tidak tidur, namun Dia membuat umat-Nya terlelap setiap hari. 

 

 



 

"Allah, tidak ada tuhan selain Dia. Yang Mahahidup, Yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya), tidak mengantuk dan tidak tidur. Milik-Nya apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi...." (QS. Al-Baqarah ayat 255)

 

Nu'ass 

Istilah "nu'aas" muncul dua kali dalam Al Quran untuk mendefinisikan tidur. Salah satu ayat di kitab suci meriwayatkan:

 

 


 

 

"(Ingatlah), ketika Allah menjadikan kamu mengantuk sebagai suatu penenteraman daripada-Nya, dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikan kamu dengan hujan itu dan menghilangkan dari kamu gangguan-gangguan syaitan dan untuk menguatkan hatimu dan mesmperteguh dengannya telapak kaki(mu)." (QS. Al-Anfal ayat 11)

 

Ayat di atas menjelaskan bagaimana tidur (nu'ass) memberi orang perasaan aman ketika menghadapi ketakutan dan stres. Sementara itu, ayat lain mengatakan:

 

 



 

"Kemudian setelah kamu ditimpa kesedihan, Dia menurunkan rasa aman kepadamu (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari kamu, sedangkan segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliah..." (QS. Ali Imran ayat 154)

 

Penafsir menggambarkan kata nu'ass sebagai tidur siang singkat, yang kemungkinan merujuk ke pada keadaan tidur lebih pulas dari sinah. Baru-baru ini, para peneliti telah mendalilkan bahwa tidur siang singkat dapat mengurangi stres dan tekanan darah.

 

Ruquud

Al-Quran mengisahkan tidurnya penduduk gua dalam "Kisah Ashabul Kahfi". Tujuh orang pemuda meminta pertolongan kepada Allah SWT untuk mempertahankan keimanan mereka dari Raja Decyanus yang kejam. Lalu, Dia mengarahkan mereka untuk mencari perlindungan di sebuah gua. Allah SWT kemudian membuat mereka tertidur.

 


 


 

 

"Dan engkau mengira mereka itu tidak tidur, padahal mereka tidur (ru'qood); dan Kami bolak-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka membentangkan kedua lengannya di depan pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentu kamu akan berpaling melarikan (diri) dari mereka dan pasti kamu akan dipenuhi rasa takut terhadap mereka." (QS. Al-Kahfi ayat 18)

 

Penafsiran yang paling tepat dari istilah ru’qood adalah "tidur dalam waktu lama". Para pemuda dan seekor anjing itu telah tinggal di gua selama 309 tahun lamanya. Kisah ini juga terkenal pada literatur Kristen yang berjudul "Seven Sleepers of Ephesus".

 

 

Hujuu’

Istilah "hujuu’ menunjukkan tidur di malam hari. Al-Quran menggambarkan orang-orang beriman yang saleh dan takut kepada Allah SWT dalam ayat berikut ini:

 


"Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam (hujuu’), dan pada akhir malam mereka memohon ampunan (kepada Allah)." (QS. Az-Zariyat ayat 17-18)

 

Subaat

Adapun Al-Quran menggambarkan tidur manusia dalam satu ayat sebagai "su'baat":

 

 



 

 

"Dan Kami jadikan tidurmu (subaat) untuk istirahat." (QS. An-Naba ayat 9)

 

Dalam bahasa Arab, kata subaat berasal dari kata sabt, yang berarti memutuskan hubungan. Oleh karena itu, subaat dapat merujuk pada pemutusan hubungan dengan lingkungan sekitar selama kondisi tidur yang dialami oleh manusia. 

 

 

Khutbah Kedua

 

 

 

Dalam sudut pandang Bidayatul Hidayah karya Imam Al-Ghazali, tidur perlu disiapkan, tidak semata-mata terlelap menutup mata.

 

Tidur malam hari dilakukan selepas melaksanakan sholat isya’. Membaca kitab ilmu pengetahuan adalah anjuran menghabiskan waktu antara sholat isya’ dan waktu tidur. Beliau, memberikan nasihat,” Sibukkanlah dirimu dengan mempelajari kitab. Jangan bermain-main; sehingga kegiatan mempelajari kitab itu menjadi penutup semua kegiatanmu sebelum engkau tidur.”

 

Beginilah cara tidur yang baik menurut Al-Ghazali:

“Bila engkau hendak tidur, hadapkanlah tempat tidurmu ke arah kiblat, dan tidurlah dengan memiringkan badan ke sebelah kanan, sebagaimana letak mayat di liang lahad. Ketahuilah bahwa tidur itu bagaikan mati, sedangkan bangun itu bagaikan bangkit dari mati. Bisa jadi Allah SWT mencabut ruhmu di kala engkau tertidur di malam hari. Oleh karena itu, bersiap-siaplah untuk menemui-Nya. 

 

Bertobatlah sebelum tidur, memohon ampunan kepada Allah dan beniat untuk berbuat kebajikan jika Allah masih membangunkanmu dari tidurmu. Dan ingatlah bahwa seperti itulah engkau akan terbaring di dalam liang lahad seorang diri, hanya amalmulah yang akan menemanimu, dan pahala bagimu hanyalah amalanmu.

 

Berniatlah bangun sebelum fajar, menunaikan dua rakaat sebelum shubuh, ini merupakan kebajikan para sholeh dan ini adalah amalan untuk menghadapi keadaan di kala miskin (hari pengadilan). 

 

Sebelum tidur berdoalah, diantara doa tersebut berbunyi ”Ya Allah bangunkanlah aku di saat yang paling Engkau senangi, sehingga Dikau dekatkan aku pada Dirimu sendiri, dan jauhkanlah aku sejauh-jauhnya dari murka-Mu.”

 

Kemudian Membaca Ayat Kursi, surat Al-Ikhlas, surat Al falaq dan Annaas, dengan dua surat ini orang berlindung pada Allah. Kemudian membaca surat yang diawali dengan ayat“Mahasuci Dia  yang ditangan-Nya berada segala kerajaan.” Tidurlah dalam keadaan bersih karena berwudlu. Imam Al Ghazali menyampaikan, “barangsiapa berlaku begini, maka naikah jiwanya ke arsy Allah dan dia ditulis sebagai menunaikah shalat hingga dia bangun. 

 

Jika kita takut tidak dapat bangun sebelum fajar, kita tunaikan sholat witir sebelum tidur, namun jika kita merasa mampu, sholat witir dilakukan setelah bangun dn menjadi penutup sholat malam.