Neuron Tanpa Sinaps
Ada... ruang di kepala kita,
yang dulu penuh cahaya,
kini... hanya gema logika.
Neuron menyala,
tapi tanpa sinaps.
Tak ada arus yang menghubungkan satu jiwa dengan jiwa lain,
hanya listrik dingin —
menyala, padam, menyala lagi —
otomatis.
Kita...
para penjaga kesadaran,
para pemelihara sistem saraf kehidupan,
perlahan berubah jadi mesin,
berfungsi sempurna... tanpa makna.
Kita bicara tentang empati,
tapi menuliskannya di laporan,
bukan di hati.
Kita mendiagnosis jiwa,
namun lupa menyembuhkan hening dalam diri sendiri.
Neuron tanpa sinaps — begitulah kita.
Saling tahu, tapi tak lagi terhubung.
Saling hadir, tapi tak benar-benar bersama.
Dan pada akhirnya...
bahkan otak yang paling brilian pun beku,
jika tiap neuron memilih berdiri sendiri,
lupa —
bahwa berpikir pun...
butuh cinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar