zurich

zurich
Kolateral di tengah kota, Zurich Course Interventional Neuroradiology, Agustus 2016

Laman

Sabtu, 04 Agustus 2018

Akhir Hari di Bangsal Neurologi.....

Banyak kali kami temui, pasien sakaratul maut di bangsal neurologi. Inilah tempat pasien tak sadarkan diri, baik karena stroke maupun infeksi. Ada pula tumor, trauma, dan ensefalopati.

Kala mulai tak sadarkan diri, kala itu tak ada yang dapat mereka ucap lagi, kecuali yang lama tertanam dalam memori. Saat kesadaran mulai menurun, hilanglah atensi, pudarlah konsentrasi, terucaplah apa yang biasa terucap. Adakah terucap dzikir dan puji, ataukah umpatan caci maki. 

Banyak kami saksikan, saat menurun kesadaran, pasien tak berhenti membaca Al Qur'an. Banyak kami lihat, dalam kondisi amat berat, yang terucap hanyalah sholawat.

Namun, sering pula kami jumpai, dalam gelapnya akhir hayat, tak ada tasbih, tak ada puji, hanya teriakan tiada henti.

Sakaratul maut demikian beratnya. Terkadang hanya terucap kata, tak mampu terucap kalimat. Lidah kelu, otak beku. Tatkala ada bisikan menuntun, menyebut nama Allah, tidak juga dapat terucap asma-Nya, kecuali yang biasa mengucapkannya, tak juga terucap lafadz-Nya, kecuali yang biasa mengingat-Nya.

Ya Allah, Ya Rabbi....Anugerahilah kami, orang tua kami, keluarga kami....akhir hayat husnul khatimah....Aamiin.

Jumat, 27 Juli 2018

Guru Kita, Nun di sana

Hampir sepuluh tahun lalu kami menghampirinya. Menangkupkan kedua tangan, menampung tetes-tetes ilmu yang jatuh dari kerja kerasnya. Kala itu, kami kehausan, dan tak seorangpun rela memberikan meski setetes. Kala itu kami bodoh, buta dan tuli. Beliau bukakan mata kami dari tabir tebal, sehingga tersingkap warna-warna indah dunia nyata. Beliau tuntun tangan kami, bagaimana melakukan gerakan indah dan terampil dalam ruang operasi.

Kemudian,
beliau tunjukkan jalan bagaimana melaluinya, mengatasi rintangan sekaligus menyelesaikannya. Langkah-langkah dan diskusi intens, bergantian dengan interaksi hangat sepanjang hari. Ada kejadian, ada pelajaran, dan ada pengalaman emosional.
Tatkala kami lemah, beliau dukung dan bangkitkan. Tatkala kami lalai, beliau lecut dan ingatkan.

Beliua seolah orang tua kami, yang bisa marah dan merajuk pada anak nakal-nya. Tetapi, lapang dada dan keluasan jiwa, tetap akan menempatkan kami semua dalam memori dan kasih sayangnya.

Namun, kesibukan kami telah melupakan kami akan beliau, yang makin menua...makin perasa....
Seolah kami tak lagi memerlukannya, karena kami telah mereguk semua ilmunya....
Seolah kami tak lagi memperdulikannya, karena kami telah dapat mengambil ilmu dari siapapun...
Kami lupa,....bahwa dari beliau kami belajar mengeja, dari uluran tangan beliau kami berdiri dan berjalan.
Kami lupa, benar-benar lupa, tanpa beliau kami bukanlah apa-apa.....

GA 307, Surabaya-Jakarta, 2018

Minggu, 01 Juli 2018

Jejak Yang Tak pernah Punah

Lama sudah masa ke masa,
Rasanya baru kemarin saja
Duapuluh empat tahun yang lalu,
Kala tapak pertama kaki melaju,
Kemudian tereguklah beribu ilmu

Kutatap erat pilar per pilar
Kutatap erat ruang sekitar
Masih belum berubah
Bersahaja dan apa adanya

Sosok menyejukkan, sosok mencerahkan
Berwibawa dan penuh pesona
Hari perhari, setiap hari
Membasuh otak dan hati kami
Mulai subuh, sampai subuh kembali

Hari ini, ....ya ...di hari ini
Kami merindukan beliau lagi
Sungguh belum pupus rasa dahaga
Belum tuntas rasa bersama

Beliau yang saat berkata,
Begitu runtut kata per kata
Beliau yang saat bertutur,
Begitu sejuk kami merasa

Qiraat Qur'an mengawali kajian tafsir,
Masih ter-ngiang dalam telinga
Nasihat sufiah menghujam dada,
Masih terasa kini atsar-nya

Mungkin di sini kami tak lama,
Seolah masa sepintas saja
Namun berkah itu amat terasa,
Menegur sapa dunia nyata

Terimakasih kami haturkan,
Doa tulus kami panjatkan
Bagi beliau guru panutan,
Berharap berkah suri tauladan

Haul Almagfurlah K.H. Yusuf Muhammad
P.P. Darussholah, Ahad 1 Juli 2018.