zurich

zurich
Kolateral di tengah kota, Zurich Course Interventional Neuroradiology, Agustus 2016

Laman

Minggu, 01 Juli 2018

Jejak Yang Tak pernah Punah

Lama sudah masa ke masa,
Rasanya baru kemarin saja
Duapuluh empat tahun yang lalu,
Kala tapak pertama kaki melaju,
Kemudian tereguklah beribu ilmu

Kutatap erat pilar per pilar
Kutatap erat ruang sekitar
Masih belum berubah
Bersahaja dan apa adanya

Sosok menyejukkan, sosok mencerahkan
Berwibawa dan penuh pesona
Hari perhari, setiap hari
Membasuh otak dan hati kami
Mulai subuh, sampai subuh kembali

Hari ini, ....ya ...di hari ini
Kami merindukan beliau lagi
Sungguh belum pupus rasa dahaga
Belum tuntas rasa bersama

Beliau yang saat berkata,
Begitu runtut kata per kata
Beliau yang saat bertutur,
Begitu sejuk kami merasa

Qiraat Qur'an mengawali kajian tafsir,
Masih ter-ngiang dalam telinga
Nasihat sufiah menghujam dada,
Masih terasa kini atsar-nya

Mungkin di sini kami tak lama,
Seolah masa sepintas saja
Namun berkah itu amat terasa,
Menegur sapa dunia nyata

Terimakasih kami haturkan,
Doa tulus kami panjatkan
Bagi beliau guru panutan,
Berharap berkah suri tauladan

Haul Almagfurlah K.H. Yusuf Muhammad
P.P. Darussholah, Ahad 1 Juli 2018.

Minggu, 24 Juni 2018

Setengah Baya

Setengah baya masa usia
Setengah tua orang menyebutnya
Matahari hidup melewati ubun-ubun
Menuju masa usia senja

Setengah baya masa usia
Mungkin puncak sukses manusia
Saat matang dalam berkarya
Penuh energi, penuh inspirasi

Setengah baya masa usia
Apakah yang tampak wahai hamba.....
Adakah terpatri amal terpuji
Atau masih lalaikan Tuhan tiada henti
Sungguh,...... inilah gambaran akhir hayat nanti

Tak lama lagi,
Tak begitu lama lagi,
Pendulum usia menuju akhir
Menuju senja, dan makin meredup
Saat kaki berat menapak
Kala kecerdasan mulai memudar
Semua menjadi lemah
Butuh bantuan saat melangkah

Setengah baya masa usia
Inilah titik mula kedua, 
Ada kesempatan menuju mulia
Atau betapa, akan hina dina selamanya
Saat menghadap Sang Kuasa.

(Surabaya-Denpasar, 24 Juni 2018)

Sabtu, 10 Maret 2018

Menghikmati Pesan Sang Maha

Dalam pesawat, di atap dunia
Di atas bergulungnya milyaran awan
Sungguh tiada arti massa diri hamba
Akulah debu angkasa tiada berguna

Semesta raya ukuran tak terkira
Besar, lebar, dalam, luar biasa...
Itupun apa dicapai panca indra
Di luar indra, tiada mampu kita mengukurnya

Oh....sungguh ilmu manusia sebatas indra
Hilang indra, hilang ilmunya
Sedang indra, hanya otak sekepal saja
Tiada otak, tiada lagi nilai manusia

Maka, apa dikata tentang semesta
Semesta yang tak mampu untuk di indra
Dari mana kita dapat beritanya
Hanya Sang Pencipta yang dapat mengabarkannya

Pesan itu datang....
Saat malam buta,
Menghampiri seorang manusia
Hamba teragung di alam raya

Aku, kita, bahkan semua manusia
Yang hidup bersama dan setelahnya
Sungguh harus mendekat
Sungguh harus merapat
Agar dapat mengerti
Agar dapat menghikmati
Pesan Tuhan Sang Maha segala
Atas rahasia alam semesta yang tak mampu di indra

Muara dari semua adalah cinta
Mencintai Sang Pencipta sepenuh dada
Saat sekepal otak dipenuhi cinta
Akan datang cahaya
Menerangi relung relung jiwa
Mencari keabadian cinta hakiki
Dalam rahmat dan ridho Ilahi Rabbi.

GA 305, Surabaya Jakarta, 10 Maret 2018