Kutatap benua biru dari angkasa
Menyusuri tepian pantai jernih memukau
Daratannya kokoh rapi tersusun
Hasil peradaban abad ke abad
Kuteguk ilmu, seteguk demi seteguk
Kusimpan dalam-dalam realitasnya
Kuhayati pelan-pelan hakekatnya
Begini rupanya sains itu tercipta
Ilmu Allah tiada batas,
Namun takkan muncul, takkan datang
Kecuali kau kaji, dan kau tuliskan
Jadilah lentera, penerang zaman
Antara Nice dan Barcelona
Tertegun dalam sendiri
Mampukah berkarya nyata
Karya yang memiliki atsar lama
Saat kita meninggalkan dunia
easyJet, flight EZY 1697, 5th Oct 2017
Sabtu, 14 Oktober 2017
Sabtu, 23 September 2017
Menyongsong Akhir Hayat
Hidup ini merupakan suatu perputaran yang berulang-ulang.
Pagi, siang, sore dan kemudian tibalah waktu malam. Setelah malam hilang, muncul fajar, dan akan muncul pagi kembali. Kehidupan manusia dimulai dari rahim, lahir, balita,
anak, remaja, dewasa dan manula. Setiap anak akan menjadi orang tua pada
waktunya, dan akan melahirkan anak-anak dan generasi berikutnya. Demikianlah waktu
berputar dari generasi ke generasi.
Bagian akhir dari perjalanan kehidupan adalah perpisahan
dari dunia fana. Belum lama kita mendengar kematian guru-guru kita, esok hari
kita mendengar kematian sahabat kita. Belum lama kita menghikmati wafatnya
orang tua kita, terdengar kabar meninggalnya murid atau mahasiswa kita. Betapa
kehidupan demikian cepat, waktu demikian pendek.
Maka, saat mendengar kematian mereka, saat kita mengantarkan
jenazah ke pekuburan mereka, kita menyampaikan salam kepada sang mati, dan kita
berkata dengan penuh keyakinan, “Kami insyaAllah akan menyusul kalian.”
Maka, perpisahan dengan dunia fana yang bagaimanakah yang
kita hadapi nanti, kematian seperti apakah yang kita harapkan ? tak satupun
tahu sisa usia kita, betapa banyak bayi dalam rahim telah kehilangan ruh
sebelum mereka lahir ke dunia. Berapa banyak pula balita yang meninggal sebelum
mereka mencapai usia dewasa. Tak seorangpun mengerti seberapa panjang sisa
usianya, adakah sehasta atau sedepa.
Karena kematian, perpisahan dengan dunia fana, menuju dunia
abadi adalah suatu kepastian dan keniscayaan, terserah pada kita semua, akankah
memilih kematian yang indah dan husnul khatimah, ataukah kematian yang buruk
atau su’ul khatimah.
Kematian yang indah adalah kematian dalam keimanan, kematian
dalam Tauhid. Sabda Rasulullah “ Barang siapa akhir kalamnya La Ilaha Illallah
akan masuk Sorga.” Siapakah kita ini sekarang, adakah akhir hayat kita akan fasih melafalkan
kalimat tersebut ?
Kematian, berpisahnya jasad dari ruh, digambarkan oleh
Rasulullah sebagai hal yang sangat menyakitkan dan menakutkan. Saat kesakitan
itu sangat, saat ketakutan itu mencekam, maka kesadaran dan logika kita akan
kabur. Yang muncul adalah aktivitas bawah sadar kita. Ucapan dan suasana batin
akhir hayat kita akan ditentukan oleh memori dalam otak kita yang kita rawat
selama hidup, bukan memori yang baru kita bangun di akhir hayat.
Marilah kita lihat orang tua. Sebagaimana dalam surat Yasin
dijelaskan “ Barangsiapa ditambahkan umurnya, makan akan dikembalikan kembali
kemasa awal kejadiannya.” Yang tersisa di dalam otaknya adalah memori jangka
panjangnya. Memori jangka panjang di bentuk tidak dalam sekali dua kali paparan, tidak dalam satu dua waktu.
Pembentukan memori jangka panjang memerlukan usaha dan repetisi.
Dalam neurologi, memori dapat singkat sesaat, working memory. Bisa merupakan memori jangka pendek, short term memory, dan dapat merupakan memori jangka
panjang, long term memory. Memori
sesaat dan memori jangka pendek adalah memori yang terganggu fungsinya saat
memasuki usia tua. Memori sesaat berada di prefrontal korteks, ia berhubungan
dengan atensi dan konsentrasi. Ia berhubungan dengan fungsi eksekutif , organizing
dan planning. Memori ini merupakan jalan masuk bagi memori jangka pendek dan
jangka panjang. Selama memori sesaat ini berfungsi, kemungkinan untuk menyimpan
segala sesuatu dalam memori jangka pendek dan jangka panjang masih sangat
memungkinkan.
Saat seseorang terkejut, panik, ketakutan, yang hadir dalam
kekalutannya adalah memori jangka panjang. Akal, yang merupakan representasi
fungsi eksekutif, tidak lagi berfungsi, yang tersisa adalah kalbu. Kalbu atau hati merupakan
representasi memori jangka panjang yang terbentuk bertahun-tahun dan di asah secara terus menerus. Kalbu ini adalah nurani. Maka tatkala seseorang dianggap tidak
memiliki hati nurani, sesunggunya dia tidak memiliki dan menjalani proses pembentukan memori
jangka panjang yang positif, yang dia miliki adalah proses pembentukan memori
jangka panjang yang negatif. Nurani, adalah representasi memori jangka panjang
positif, dalam kondisi sadar merupakan sumber pertimbangan yang muncul dalam
berbagai kekalutan.
Maka, terserah kepada kita, kembali kepada kita, apakah kita
akan menimbuni dan memenuhi otak kita dengan memori jangka panjang positif,
sehingga kita memiliki nurani yang peka, kalbu yang khusyuk ? ataukah akan kita
timbuni dan kita penuhi memori jangka panjang dengan segala sesuatu yang negatif dan destruktif ?
Karakter, baik budi, dan akhlaq terpuji sesungguhnya
bermula dari simpanan-simpanan memori yang terbentuk sejak awal kehidupan,
bertahun-tahun. Tatkala ia tersimpan dalam memori jangka panjang, sulit dan bahkan mustahil untuk
mengubahnya. Karena ia telah mengkristal dan menjadi ‘ilmul yaqin. Apakah ilmul
yaqin itu ? Ilmu yakin adalah ilmu yang bisa dijadikan sandaran. Tatkala ada
sesorang yang mampu membelah lautan ataupun memadamkan cahaya bulan, kemudian
dia mengatakan bahwa 10 dikurangi 3 adalah 5, maka tentu dia tidak akan mampu
mengubah keyakinan kita, apapun yang terjadi kita tetap meyakini bahwa 10
dikurangi 3 adalah 7. Inilah yang di maksud ilmul yaqih, dan keyakinan kita menjadi keyakinan haqqul yaqiin.
Karakter, adalah hasil yang berasal dari proses mental dan
bahan utamanya adalah limpahan dan timbunan memori jangka panjang, ini
merupakan suatu proses yang terus menerus dan memerlukan usaha keras. Karakter merupakan sikap, gesture, ungkapan dan perilaku dhohir yang bisa kita lihat dan nilai. Ia menggunaakan kekuatan ketiga memori secara simultan. Memori
jangka panjang adalah proses yang didapatkan dari modalitas sensorik otak,
mulai visual, auditorik, taktil dan deep sensibility.
“Lisanul haal, afshohu min lisanil maqaal.” begitu kata pepatah.
Mengapakah
contoh dan perilaku itu lebih tertanam penuh dalam otak sang murid di banding
kata-kata saja ? Karena contoh dan perilaku merupakan kumpulan cerita, sekuens.
Otak lebih mudah menyimpan memori yang berupa sekuens dibanding hanya
auditorik. Sekuens (memori tentang fakta dan peristiwa) merupakan memori yang
memiliki tempat penyimpanan yang lebih luas di otak di banding memori
auditorik dan sangat mudah disimpan menjadi memori jangka panjang. Sehingga, seseorang akan lebih mudah mengingat cerita dibanding
suatu pernyataan dan nasehat saja. Inilah mengapa, kitab-kitab sufi selalu didahului atau
diselingi kisah-kisah penuh hikmah. Inilah mengapa dalam Al-qur’an banyak sekali
kisah-kisah Nabi dan orang sholih.
Maka, kembali pada kehidupan akhir hayat, maka siapakah kita
yang akhir hayat kita mengucapkan lafadz La ilaha Illallah ? adalah dia yang
sepanjang hidupnya melafazdkan dan mengamalkan maknanya. Tidak ada Tuhan Selain
Allah, maka artinya kita membebaskan diri secara terus menerus dari penghambaan
terhadap benda dan penghambaan terhadap sesama. Kita melafadzkannya dalam
sholat, dzikir dan kehidupan keseharian kita, kita mengaktualisasikannya dalam aktivitas kehidupan
kita. Membebaskan diri terhadap dunia, artinya kita tidak menghamba pada dunia,
kita menghamba hanya pada Allah. Kita tidak tunduk pada kekuasaan dan kemauan
manusia, namun kita tunduk pada Allah semata.
Selasa, 05 September 2017
Rutinitas Yang Bernilai......
Dalam keseharian hidup kita, kita memiliki rutinitas.
Sejak kita dibangunkan Allah pada pagi hari, sampai kita
ditidurkan kembali.
Rutinitas itu kita jalani berpuluh-puluh tahun. Mulai dari
kita balita, remaja, dewasa dan sampai mencapai usia saat ini.
Rutinitas tersebut, dapat saja merupakan rutinitas yang
membunuh kita, rutinitas yang sia-sia, tidak bernilai di hadapan Allah dan akan
dilemparkan kembali ke wajah kita di hari kiamat,
atau dapat pula merupakan rutinitas yang menuntun pada
kebahagiaan kita, kebahagiaan hidup dunia yang penuh barakah dan juga
kebahagiaan akhirat.
Rutinitas yang setiap hari berulang itu, bisa jadi hanya
merupakan rutinitas duniawi dan profan. Namun, dapat pula rutinitas itu menjadi
amalan dunia sekaligus amalan akhirat yang abadi di sisi Allah.
Agar rutinitas itu memiliki makna dan menjadi amalah
akhirat. Nabi SAW mengajarakan kita untuk memulai rutinitas harian dengan
menata niat dan motivasi. Dan itu dilakukan setiap hari, setiap saat, mulai
dari kita dibangunkan Allah dari tidur sampai kita ditidurkan kembali.
Nabi SAW mengajarkan agar memulai segala sesuatu dengan
do’a. Di dalam doa itu ada niat dan motivasi, untuk tujuan apakah aktivitas
kita sesungguhnya.
Saat kita bangun tidur, Nabi mangajarkan berdoa. Saat menjelang tidur kita diajarkan berdoa. Saat makan kita diajarkan berdoa. Saat kita memulai aktivitas keluar rumah kita berdoa. Saat kita memulai belajar kitapun diajarkan berdoa.
Dan banyak sekali doa-doa yang diajarkan kepada kita.
Sholat yang kita kerjakan merupakan doa. Sholat dalam pengertian bahasa adalah do’a. Perjalanan
umrah dan haji penuh dengan doa-doa, saat mulai ihram, saat kita thawaf, saat
kita sa’i, kesemuanya adalah do’a.
Do’a bukan hanya mengajarkan kepada kita agar memperbaiki
niat dan motivasi pada semua amalan, namun juga menegaskan bahwa kita adalah
hamba yang lemah, yang selalu memohon kepada Allah, penguasa seluruh alam, yang
Maha Bijaksana, Yang maha luas anugerahnya, Yang mengatur semua urusan dunia
dengan kekuasaan dan kebijaksanaannya.
Maka, lihatlah, pekerjaan yang dimulai dengan do’a, apabila
pekerjaan itu sukses dan berhasil membanggakan, tidak akan membuat kita sombong
dan membanggakan diri, sebab kita menyadari, semua yang terjadi karena izin
Allah.
Maka, lihatlah, pekerjaan yang dimulai dengan do’a, apabila
pekerjaan itu gagal dan tidak menghasilkan, tidak akan membuat kita distress
dan putus asa, karena kita yakin itu adalah cara Allah membimbing dan
menyayangi hamba-Nya.
Demikian indahnya Nabi SAW mengajarkan kepada kita melalui
suri tauladan beliau, bagaimana mengisi hari-hari dan rutinitas, mulai dari
kita dibangunkan, sampai kita ditidurkan kembali oleh Allah.
Dengan mengikuti tauladan Nabi SAW, maka tidak ada rutinitas
yang sia-sia, tidak ada amalan yang tidak bernilai. Semua rutinitas kita, semua
amalan kita, yang disertai dengan memperbaiki niat, yang disertai dengan doa,
merupakan amalan yang bukan hanya menjadi amalan dunia, namun akan abadi
menjadi amalan akhirat. Semua amalah itu menjadi ibadah, menjadi sarana
penghambaan kita kepada Allah.
Sesungguhnya kita harus ingat, bahwa Allah menciptakan Jin
dan Manusia, hanyalah agar mereka beribadah kepadaNya.
Namun, tahukah kita, saat kita meniatkan rutinitas kita
sebagai ibadah, ternyata kita memerlukan ilmu, tidak sekedar melaksanakan
rutinitas. Ibadah kepada Allah merupakan rangkaian perjalanan.
Ternyata, jalan Ibadah, jalan menuju Allah, adalah jalan
yang terjal, jalan yang sulit dilalui, banyak tanjakannya, bersangatan
kepayahannya, jauh jaraknya, besar marabahayanya, tidak sedikit rintangan dan
halangannya, terkepung dengan kebinasaan dan penuh penghadang, banyak musuh dan
penjegal, sedikit sekali teman dan pengikutnya.
Demikianlah jalan ibadah itu, jalan ibadah adalah jalan
menuju sorga, jalan menuju Allah.
Keadaan yang demikian itu sesuai dengan yang disabdakan Nabi
SAW :
“ Ingatlah, sesungguhnya sorga itu terkepung oleh berbagai
hal yang dibenci, sedangkan neraka dikelilingi oleh bermacam kesenangan nafsu.”**
Rasulullah juga bersabda :
“ Ingatlah, sorga itu bagaikan tanah terjal ditempat
ketinggian, Ingatlah, neraka itu bagaikan tanah lapang di tempat rata.”**
Maka marilah kita lihat diri kita,
Kita sebagai manusia demikian lemah, masa begitu sulit, laku
agama semakin mundur, waktu luang untuk beribadah sangat sedikit, pekerjaan
selain ibadah banyak sekali, umur sangatlah singkat dan seringkali kita gegabah
dalam beramal.
Sedangkan Allah, Dzat Maha peneliti sangat waspada, batas
hidup dan mati demikian dekat, namun jarak yang ditempuh demikian panjang dan
memerlukan bekal taat pada Allah, yang apabila masa itu lewat…tidak akan pernah
dan tidak akan pernah dapat dikembalikan lagi.
Maka barang siapa selama perjalanan hidupnya berbuat taat,
berarti akan beruntung selama-lamanya, barang siapa berbuat sebaliknya ia akan
merugi bersama orang-orang yang celaka. Semoga Allah melimpahkan kasih
sayangnya kepada kita semua.
Jalan ibadah ini, bukan merupakan jalan yang mudah, kalaupun
ada yang bertujuan ibadah, sedikit sekali yang bertekad menempuh jalannya,
tidak banyak yang bisa sampai kepada maksudnya dan menemukan yang dicari.
Para penempuh jalan ibadah yang bisa sampai kepada maksudnya,
adalah orang-orang mulia yang dipilih Allah. Kita memohon kepada Allah, semoga
berkenan menjadikan Kita termasuk orang-orang yang beruntung karena kasih
sayang-Nya.
Dalam banyak kitab yang ditulis oleh ulama-ulama yang
mengajarkan tentang perjalanan ibadah menuju Allah, perjalanan ibadah ini
memiliki langkah-langkah. Langkah ini di sebut ‘aqabah, yang berarti langkah yang harus di tempuh. Dua langkah
pertama yang harus dilalui oleh orang yang berniat sepenuh hati beribadah
kepada Allah adalah ‘aqabatul ilmi
dan ‘aqabatut taubah.
Orang yang berniat ibadah namun enggan untuk belajar ilmu
agama, hanya melakukan ibadah dengan apa adanya, menjalankan ibadah tanpa ilmu
dan hanya gerakan tanpa makna, maka bisa dibayangkan bagaimana mungkin akan
mencapai tujuan yang dimaksudkan. Maka ibadahnya penuh cacat dan mungkin
tertolak, sebagaimana seorang awam yang melakukan pengobatan atau tindakan
operasi tanpa tahu tatacara, maksud dan tujuan mengobatannya. Untuk dapat
mengobati dengan baik, maka perlu belajar ilmu kedokteran.
Orang yang berniat ibadah namun enggan untuk bertaubat, yang
berarti bukan hanya menyesali kesalahan dan dosa di masa lalu, juga menyesali
banyaknya waktu yang telah disia-siakan dan mengkhianati anugerah umur yang
diberikan Allah. Maka akan sulit mencapai tujuan dan nikmatnya beribadah kepada
Allah.
Semoga Allah menyayangi kita dengan menggerakkan hati kita
untuk memilih jalan Ibadah kepada-Nya, menyadarkan kita untuk segera mendalami
ilmu agama, memberikan kekuatan pada kita untuk bertaubat. Karena hanya dengan
memulai dua langkah pertama inilah, perjalanan ibadah kita menuju Allah menjadi
lapang.
Kita berdoa semoga rutinitas yang telah kita kerjakan
bertahun-tahun lalu, bukan merupakan rutinitas yang sia-sia, bukan rutinitas
yang tidak bernilai, karena jika demikian, alangkah malangnya kita, alangkah
ruginya kita, sedang umur kita mungkin tinggal sejengkal dan sehasta. Maka,
tidak bosan-bosannya kita memanjatkan doa…Rabbana taqabbal minna….Rabbana
taqabbal minna….
Semoga Allah melunakkan hati kita, menumbuhkan niat untuk
menempuh jalan ibadah, menghiasi semua aktivitas kita dengan niat untuk
semata-mata mendekatkan diri kepada-Nya.
Semoga Allah memudahkan langkah kita semua. Amiin ya Rabbal
Alamin.
(**Hadis dan beberapa konten merujuk dari Kitab Minhajul 'Abidin, Imam Al-Ghazali)
(**Hadis dan beberapa konten merujuk dari Kitab Minhajul 'Abidin, Imam Al-Ghazali)
Langganan:
Postingan (Atom)